Sejurus kemudian, ku raih 2 lembar daun pisang yang tersandar tak jauh dari kami dan memberikannya satu pada Tya sementara yang satu lagi untuk ku sendiri.” buat apaan nih ?! Seketika itu juga, ku sodorkan muka ini, ke wajahnya, seriring tatapan kami yang tak henti-henti, bibir-bibir kami pun bertemu dan mulai merasakan hangat tubuh masing-masing.Sementara Tya mengalungkan sepasang lengannya di tengkuk ku, ku pagut lebih keras bibir bawahnya, hingga terdengar lenguhan dan terendus wangi nafasnya yang berjejalan masuk ke dalam tenggorokan ini. Bokeb ” Tya berdehem, seraya melepaskan genggamannya perlahan dan membuang pandangannya ke bawah. Sedikit kuraba dengan ujung kepala penisku, akan dimana liangnya berada sampai akhirnya ku temukan dan ..” ssscccchhh aaahhhhh ..




















