Tinus
tersenyum mendengar pertanyaan aneh Artika .“Kami memang tinggal di Papua, tapi kami tidak buta informasi,”
jawab Tinus diplomatis. Belum lagi dia mencapai pintu, tiba-tiba pintu terbuka dengan
lebar. Bokep Montok Yang mambuat Artika ngeri, Wewengko masuk
hanya dengan mengenakan koteka di kemaluannya tanpa selembarpun benang
menutupi tubuhnya. Lewat salah satu penduduk di sekitar hotel Artika
berhasil menemukan orang yang bisa mengantarnya. Perempuan Papua
itu
melemparkan sesuatu pada Artika.“Ini pakaian yang harus kamu pakai…” katanya sambil tersenyum
jahat. Artika mengangguk.“Saya Artika, tolong jangan sakiti saya,” ujar Artika
terbata-bata di sela tangisnya.“Bagus,” Pria Papua itu tersenyum. Langkahnya terlihat sedikit
tergesa-gesa.“Bagaimana Kak?” Artika bertanya dengan nada tidak sabar. Sambil terus menyetubuhi Artika ,
Wewengko juga melumat bibir Artika dengan buas. Hanya degupan jantung keduanya yang terasa
bergejolak di dada mereka yang saling menempel. Artika merasakan
cairan hangat dan kental memenuhi mulutnya




















