Aku menangis tiada henti di bandara seperti orang bodoh. Bokep Family Ling menyanggupi dan berjanji akan menjemput aku sepulang sekolah pukul 13.00Pukul sebelas Martin pulang ke rumah. Usiaku 17 tahun. Kutumpahkan semua perasaanku dalam air mata yang segera tersapu guyuran air hangat. Aku memeluk Martin sekuat tenaga dengan napas terputus-putus. Kemudian dia menjilat puting kiriku sekilas. Tapi teman sekolah mengatakan kami pasangan serasi. Aku memejamkan mata berdebar-debar menunggu Martin memulai aksinya.Martin menciumi sisi luar kemaluanku dengan perlahan. Namun sudah terlambat! Bukan hanya hubunganku dengan Andre yang hancur. Tinggiku sedang dan badanku agak kurus. Mereka marah besar padaku dan mengawasiku dengan ketat. Gara-gara Bandar gede dari Jakarta datang, semua jadi kebanyakan ineks. Tak ada lagi Andrew dalam kamusku. Aku sudah mempersiapkan diri untuk mendiamkannya selamanya.




















